Rabu, 24 Agustus 2011

Pejuang Tanpa Pamrih



Namanya Sudarwan. Ia kini berusia 78 tahun. Dahulu ketika Indonesia sedang memperjuangkan kemerdekaannya, ia termasuk pejuang rakyat yang ikut berupaya keras mengusir penjajah. Saat ini ia tinnggal di sebuah bilik berukuran 5x6 m persegi, bersama isterinya. Anak - anaknya berjumlah sembilan orang dan sudah memiliki keluarga masing-masing.

Sudarwan tidak termasuk veteran yang mendapatkan dana pensiun untuk menyambung hidupnya. Ia tidak pernah mau mengurusnya seperti halnya teman-teman yang lainnya. Baginya ia berjuang tidak untuk mendapatkan sejumlah uang dikemudian hari. Baginya ia berjuang untuk memenuhi panggilan hatinya. Ia mengistilahkannya dengan sebuah rasa gemas kepada penjajah yang seenak perutnya menginjak-injak harga diri bangsanya.

Setelah masa perjuangan selesai, ia menikah dengan seorang gadis yang ia temui sebelumnya di sebuah pasar. Hingga memiliki sembilan orang anak dan beberapa cucu. Untuk menyambung hidupnya, ia bekerja sebagai buruh tani dan sudah 11 tahun ini ia bekerja sebagai pemulung., setelah ia memutuskan untuk pindah ke kota beberapa waktu silam.

Penghasilan tiap harinya tidak menentu. Seringkali mereka berdua hanya makan satu kali sehari. Mereka bertekad tidak ingin menyusahkan anak-anaknya, sehingga mereka tidak pernah meminta belas kasihan atas kondisinya tersebut. Baju yang dipakai oleh Pak Sudarwan dan isterinya sangat sederahana dengan beberapa sobekan disana-sini. Namun, mereka merasa bahagia dengan keadaan yang seperti itu.

Sebuah Rutinitas yang selalu Pak Sudarwan lakukan adalah bahwa setiap hari Senin ketika sebuah SD Negeri di dekat rumahnya mengadakan upacara bendera, ia selalu menyempatkan berdiri di luar pagar SD itu untuk ikut melakukan penghormatan kepada Sang Merah Putih ketika sesi hormat bendera dilakukan. Ia selalu menitikan air mata ketika ia melakukan hormat bendera dengan sikap sempurna melalui tubuh rentanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar